Kamis, 10 April 2014

[Catatan] Life Isnt a Music

0 komentar
Life Isn’t a Music, We Must Action Not Only Sounds!


     
       Tentu saja setiap orang mempunyai mimpi yang ingin di gapainya, baik itu berupa harapan-harapan di masa mendatang, keinginan untuk berubah menjadi lebih baik, atau tentang ingin menjadi apa di masa depan. Mimpi-mimpi setiap orang memang berbeda dalam segi jumlah maupun apa yang dimimpikannya itu. Tapi semua memiliki kesamaan, yakni apa yang dimimpikannya itu menjadi kenyataan.

Siapa yang tidak senang jika mimpinya terwujud? Banyak orang-orang yang berhayal dan melamunkan jika mimpinya itu menjadi nyata. Berhayal bagaimana jika mimpi mereka berhasil, kehidupan setelahnya seperti apa, lalu bagaimana tanggapan orang-orang terhadap dirinya nanti, dan masih banyak lagi hal-hal yang dilamunkan. Namun sayangnya, banyak diantara mereka yang hanya menyanyikan mimpi di siang dan malam sambil berharap bahwa itu akan menjadi nyata.



Namun menyanyikan mimpi-mimpi kita tak cukup untuk membuat semua itu seperti nyata. Memang, ketika kita menyanyikan mimpi-mimpi itu kita seringkali terpacu ingin mimpi itu menjadi kenyataan. Tapi itu tidak cukup, kita harus membuat semua mimpi dan harapan kita itu menjadi nyata. Tak lagi dalam angan-angan dan hayalan yang tak kunjung selesai.

Bertindak merupakan salah satu bentuk mewujudkan mimpi itu. Meskipun tindakan kita perlahan tapi jika dilakukan secara terus-menerus akan menuai hasil, tentu saja dengan syarat konsisten dengan mimpi kita itu. Bahkan sering kali apa yang kita lakukan untuk mimpi tersebut, hasilnya melebihi apa yang kita impikan. Itu karena kita berani bertindak, berani mengambil resiko, dan berani mengambil tantangan.

Namun sayangnya, banyak diantara para remaja yang tidak menyadari hal ini. Mereka mempunyai mimpi yang tinggi, namun tanpa ada pergerakan. Sepertinya, tindakan adalah hal yang paling sulit mereka lakukan. Bagi mereka lebih mudah bermimpi daripada bertindak. Padahal, bermimpi tanpa bertindak seperti memakai baju transparan. Percuma, bukan ?

Life isn’t a music, hidup tidak seperti musik. Terutama dalam musik modern, banyak lagu-lagu yang memiliki tema beragam yang hanya dinyanyikan saja. Lagu patah hati misalnya, banyak lagu patah hati di tanah air ini dan rata-rata menceritakan bagaimana rasanya patah hati juga seperti apa sakitnya patah hati. Dari aliran musik pop sampai rock ada tema patah hati. Tapi, apakah setelah mendengar lagu tersebut kita mempelajari tentang perasaan lagu tersebut dan berusaha keluar dari belenggu rasa patah hati ? banyak para remaja yang hanya mendengarkan tanpa berusaha keluar dari belenggu patah hati karena mereka terlalu terhanyut dalam lagu itu.

Dalam dunia musik, tentu saja sah mengekspresikan apa yang ingin kia sampaikan melalui lantunan nada-nada alat musik. Bahkan kadang menjadi obat penenang untuk kita. Tapi ingat kawan, obat penenang tak selamanya bisa memenangkan. Ketika manfaatnya telah habis, belum tentu kita bisa tenang. Maka dari itu, kita harus keluar dari belenggu tersebut.

We must action not only sound, Kita harus beraksi bukan hanya bersuara. Ketika kita mendengarkan sebuah lagu, kita tidak boleh hanya bersuara dalam hati bahwa kita ingin keluar dari ruang lingkup masalah kita atau kegalauan kita. Tapi, kita juga harus melakukan ‘action’ atau tindakan untuk mewujudkan apa yang kita harap itu. Memang, yang namanya bersuara itu bisa memotivasi kita untuk melakukan tindakan tapi jika hanya sebuah motivasi tanpa tindakan itu tidak bearti apa-apa. Dalam menjalani kehidupan kita tidak boleh hanya berharap berubah tapi tanpa berusaha melakukan perubahan itu. Manusia dituntut untuk melakukan perubahan-perubahan nyata dalam bentuk pergerakan, bukan perubahan semu dalam bentuk ucapan tanpa pergerakan. Meski penulis sendiri mengakui bahwa ucapan bisa mempengaruhi perbuatan, tapi jika hanya mengucapkan saja tanpa perbuatan terasa percuma.

Jadi, kita sebagai manusia tidak boleh hanya berharap tanpa perbuatan. Karena jika berharap tanpa perbuatan itu percuma, tapi perbuatan tanpa mengetahui apa tujuannya sama saja dengan bohong. Jadilah insan yang dapat mewujudkan apa yang dia ucapkan meski hal sederhana. (Artikel ini terinspirasi dari @Num_Asyalia dalam bionya dulu : Life Ins’t a Music, We Must Action not only sound!)

Jumat, 21 Maret 2014

[Cerpen] Rainbow Cake; Lost Story di Pagi Januari (2)

0 komentar
“Rainbow Cake”
Lost Story, di pagi Januari (Part 2)


“Seiring berjalannya waktu, merelakan dan menerima sesuatu bisa menjadi dua hal yang sangat bertolak belakang dan sulit dipahami oleh hati yang tengah tersesat di kekacauan pikiran.”

***

            Nafasku kuhembuskan dengan berat. Lamunan tentang gadis itu harus aku hapus karena ada seseorang bermata hitam pekat yang tengah menungguku, dialah Fella. Meski hati ini enggan beranjak dari dapur, tapi kaki ku memaksa tubuhkku untuk mengikuti langkahnya ke pintu dapur. Aku membuka pintu itu dan menguncinya, setelah aku rasa toko ini telah dikunci semua baru aku pergi menuju motor hitamku yang terparkir tepat di samping kanan pintu dapur dan menyalakan mesinnya. Lalu, aku melaju kencang menuju cafe Om Rio.

            Sudah ku kira Fella akan menungguku di depan cafe, dan semua terbukti saat aku sudah sampai di depan cafe. Dia nampak menawan dengan dress berwarna kuning pucat, rambut panjang yang tergerai lurus dihiasi bando putih mampu membuatku berhenti sejenak memandangnya. Ditambah dengan kulit putihnya juga matanya yang sipit, mampu membuat setiap orang yang berjalan berhenti sejenak untuk memandangnya. Bukanlah kecantikan biasa, tapi dia layaknya gaun mahal di etalase toko paling terkenal. Ya, harus ku akui bahwa malam ini aku sedikit terpesona dengannya.

            Aku melepaskan helm ku, dan menatap dia dengan leluasa sekarang. Dia nampak lebih cantik dari jarak sedekat ini, dan mungkin saja aku lebih terpesona kepadanya.

“Dit kok kamu lama banget? Aku nungguin kamu tahu” ucap Fella sambil berjalan menghampiriku, dan merajuk manja.
“Aku habis beres-beres di toko. Kan aku harus menunggu karyawanku pulang semua, Fell” jawabku pada Fella dengan datar, sambil memberikan helm yang ada di bawah jok motorku.
“Ya sudah, sekarang Adit anterin aku pulang ya” katanya sambil menerima helm yang aku berikan, lalu tersenyum padaku.
 “Iya, Fella” kataku sambil membalas senyuman Fella

Aku langsung memakai helm dan menyalakan motorku dan setelah Fella berada di belakangku, aku segera memajukan motor ini melewati kota yang semakin hidup ketika malam. Lampu-lampu malam dari berbagai gedung semakin menambah hidup, ditambah ramainya kendaraan yang berlalu lalang mencari sebuah kehidupan seolah sudah menjadi nafas bagi kota ini.

            Aku dapat merasakan getaran ketika Fella memelukku dari belakang karena dia sendiri tak tahan jika angin malam menyentuh tubuhnya. Ah, sudah sewajarnya bukan aku merasakan getaran ini? Tapi entah kenapa. Walau sihir yang diciptakan Fella begitu kuat agar aku terus menatapnya, seolah sihir itu hanya mampu bertahan beberapa detik saja. Apakah gadis itu masih ada di otakku?

***
            Ketika malam tiba dan dapur sepi, hanya ada dua insan yang sedang tertawa renyah dengan jangkrik dan hembuasan angin sebagai musiknya. Kerenyahan tawa itu menggema ke seluruh ruangan, sehingga suara itu terdengar jelas di telinga mereka. Ya, mereka menikmati obrolan malam yang hampir setiap malam dilakukan. Lampu redup dan dua cangkir kopi panas menjadi pemanis suasana romantis itu.

            Namun, semua berbeda dengan malam ini. Tak ada kerenyahan tawa, bahkan jangkrik dan angin yang biasa menjadi musik nampak menghilang begitu saja. Seolah mengerti apa yang akan terjadi malam ini. Sunyi dan hening, seolah es dari kutub utara menghalangi aktivitas malam ini. Dua cangkir kopi panas pun tak bisa mencairkan suasana canggung itu.

“Dit” panggil seorang perempuan yang berada di hadapanku.
“Iya, ada apa Di?” ucapku sambil menatapnya lembut.

Hening, tak ada jawaban yang keluar dari mulut mungilnya itu. Atmosfer canggung semakin terasa diantara aku dan dia, walau aku sudah tahu apa yang akan dia ucapkan, tapi tetap saja aku belum bisa menerimanya.

“Maafkan, Dit. Maafkan aku” suara parau itu makin terdengar samar. Seperti menahan sesak.

Ah, air mata yang tak ingin ku lihat mulai mengalir di pipinya. Suaranya sesekali sesegukan karena menangis, aku mengambil tisu yang berada di sampingku

“Maudy, gak usah nangis. Aku gak mau melihat kamu murung, apalagi menangis seperti ini. Ayolah, kembali tersenyum” aku menghembuskan nafas, lalu menajutkan ucapanku
“Di, dari dirimu aku belajar banyak hal. Tentang pengertian, kepercayaan, dan apa yang sebelumnya aku belum paham. Aku.....”
“Dit” panggil dia
“Adit!” tiba-tiba aku mendengar orang lain memanggillku
“Adit!” itu bukan suara Maudy, tapi...
“Aditya, awas di depan ada mobil!” teriak pemilik suara itu, Fella.
Dengan setengah sadar, aku cepat-cepat membelokkan motorku untuk menghindari tabrakan.
Tia-tiba beberapa orang menghampiriku. Ada apa?
           

Bersambung ..