Selasa, 03 Maret 2015

Dibalik Pementasan Monolog Carpe Noctum



 (Pemain Carpe Noctum sedang makan bersama)

Alhamdulillah, kemarin tanggal 1 Maret 2015 sekolahku (MAN Cianjur) menampilkan sebuah …… um, apa ya? Entahlah, aku sendiri bingung harus menyebutnya apa. Tapi yang jelas, yang paling menonjol dari penampilan kami itu ‘Monolog’ yang dibawakan oleh ketiga narrator, dan jadilah namanya ‘Drama Monolog’ walaupun aku sendiri tidak yakin dengan nama .

Drama ini menceritakan sebuah fenomena masa sekarang, dimana hampir setiap orang memakai topeng dalam kehidupannya. Dia lebih suka mengikuti tren, mode, ikut-ikutan, atau menggapai mimpi yang tidak jelas dan melakukan kegiatan yang dia sendiri tidak tahu apakah itu baik atau tidak. Dibalik keceriaan mereka, sebenarnya hati mereka kosong; merasa sendiri ditengah keramainan. Banyak dari mereka yang terlihat bahagia, padahal hati mereka menangis.
          
Diawali dengan lagu Evanescence – Bring Me To Life, para pemain dari kursi belakang maju ke depan dengan wajah frustasi, tertawa, bingung, ketakutan, dan putus asa. Mereka maju ke atas panggung, dan setelah berada dipanggung juga musik telah berhenti, ada lima orang yang bertanya tentang mimpi dan dilanjut oleh tiga narator.  Narator  yang pertama berperan sebagai ibu-ibu, narrator yang kedua berperan sebagai anak kecil dan narrator yang ketiga berperan sebagai remaja gaul. Masing-masing mempunyai kisah sendiri seperti seorang ibu yang stress gara-gara melihat anaknya yang kacau lalu mengakui bahwa dia salah, tidak mendidik anaknya sampai besar. Seorang anak yang menyesal karena dia menjadi anak bandel; terus-terusan bermain game sambil berpacaran yang tidak sehat dan seorang anak gaul yang menyesal karena dia berpacaran sampai hubungan suami istri, ketika dia hamil pacarnya tidak bertanggung jawab. Lalu, orang-orang mempertanyakan lagi tentang mimpi dan akhirnya mati.
         
Well, jika sahabat lihat videonya jangan aneh jika kami belum maksimal. Bayangkan, tampil hari minggu dan mulai latihan hari rabu. Tapi menurutku, mereka sudah melakukan yang terbaik. Beberapa teman aku bertanya seperti ini, “Teh/Aida, dapet ide pementasan kayak gini dari mana?”. Ada beberapa hal yang awalnya engga nyambung, tapi aku satukan dalam pementasan ini. Ide ini berasal dari :

  •  Anime One Piece Arc Thriller Bark (337 – 381), menceritakan Luffy dkk sedang berhadapan dengan salah satu Ouka Shichibukkai, Gecko Moria. Disana ada beberapa zombie buatan Dr. Hogback, dan bagian yang benar-benar menginspirasi itu bagian ini (Lihat gambar). Kenapa bagian ini? Aku berpikir sepertinya lucu memadukan horror dengan komedi dengan cara seperti ini; seperti Luffy yang dengna polosnya memasukkan kembali zombie.

(Luffy sedang memasukkan zombie ke dalam kuburannya lagi)
  • Lagu Evanescence – Bring Me To Life. Awalnya aku memilih ini, saat milih lagu buat tugas powerpoint lalu iseng-iseng bertanya kepada Mbah Gugel artinya dan …. Waw! Lagunya menggambarkan keadaan dimana orang-orang mereka mengerjakan apa yang sebenarnya tidak perlu, tapi yang seharusnya dikerjakan itu tidak dilaksanakan.


(Amy Lee, penyanyi lagu Bring Me To Life)
  •  Monolog. Yap, aku sendiri tergila-gila pada monolog bahkan ingin memainkan monolog secara professional. Karena kegilaanku terhadap monolog, makanya aku curahkan yang ada di kepalaku pada naskah itu. Ya minimalnya walau aku belum bisa monolog tapi tulisanku bisa dibawakan oleh orang lain


(MAN Cianjur saat Gladiresik, tanggal 28 Februari 2015 di gedung DKC)
  • Puisi Berantai. Di ekskulku yakni KIJ, terdapat Divisi Sastra dan salah satu ritual rutinan yang biasa dipakai buat menjahili yang lain ialah Puisi Berantai. Pas inget puisi berantai aku berpikir, kenapa monolog tidak disampaikan dengan cara berantai?

  • Straw Hat Pirates (SHP). Yap, buat Oplovers dan Otaku mungkin sudah tidak aneh lagi dengan mereka. SHP ini dipimpin oleh Monkey D. Luffy yang memakan buath Gomu Gomu No Mi (Buah setan karet) sehingga tubuhnya bisa melar seperti karet. Bersama kelompoknya, dia berusaha menjadi Raja Bajak Laut. Walau anime / manganya banyak hal nyeleneh seperti munculnya Pandaman disaat tidak terduga, kelakuan Luffy yang konyol, dan masih banyak lagi tapi isinya dalem. Ada pemberontakan kepada World Government, tentang pasar gelap, tentang penjualan manusia, dan masih banyak lagi. Pembawaan yang enak, membuat anime ini banyak berpikir. Dan aku berpikir; kenapa engga bikin sebuah drama yang nyeleneh tapi bisa memberikan pelajaran berharga?



 (Kru Kelompok Topi Jerami)

Dan kenapa judulnya harus diambil dari bahasa latin? Maksudnya apa?

Tahu kan, peradaban zaman dulu itu kece-kece? Bahkan kalo engga salah, tahun 2007 ditemukan lilin yang masih menyala selama 1000 tahun! Aku pengen peradaban sekarang melebihi itu, ya minimal sama lah. Dan “Tangkaplah Malam” artinya, agar kita bisa menangkap makna malam itu semua yakni shalat malam. Mungkin sepele sih, tapi menurutku malam akan terasa ketenangan dan kelembutannya saat shalat malam. Bayangkan, kita berwudhu kemudian shalat diiringin bacaan yang baik, lalu coba diam sebentar dan rasakan bagaimana angin menyentuh kulitmu. Sementara masa sekarang, ku kira banyak yang melupakan kegiatan ini. Ah, kenapa harus seperti ini?

Katanya buatan kamu, kok namanya Aya Sofia? Dia siapa?

Orang yang sama kok, cuman Aya Sofia itu nama penaku. Itu diambil dari nama museum di Istanbul, Turki. Awalnya Aya Sofia merupakan gereja yang dibangun pada masa Byznatium, tapi ketika Islam mulai Berjaya disana, Aya Sofia berubah jadi Masjid. Terakhir, Kemal Pasha mengubah Aya Sofia menjadi sebuah museum. Aya Sofia telah didatangi oleh berbagai agama, budaya, ras, suku, dan lain-lain. Keberadaannya juga diterima, karena dia sendiri ‘welcome’ dank dibangun oleh dua agama besar (Islam dan Kristen) yang terdiri dari berbagai ras, suku dan budaya. Hm, mungkin pembaca paham kenapa aku memilih nama ini ^_^

Acara ini special buatku, karena naskah pertama yang dipentaskan untuk dan sukses juga memperkenalkan nama penaku, Aya Sofia yang memiliki arti menawan. Dan semua ini tak ada artinya tanpa para pemain yang bersedia mengorbankan waktunya untuk pementasan ini. Semoga selanjutnya dapat lebih baik lagi ^_^


Untuk naskah dan videonya in progress ^_^

Kamis, 10 April 2014

[Catatan] Life Isnt a Music

Life Isn’t a Music, We Must Action Not Only Sounds!


     
       Tentu saja setiap orang mempunyai mimpi yang ingin di gapainya, baik itu berupa harapan-harapan di masa mendatang, keinginan untuk berubah menjadi lebih baik, atau tentang ingin menjadi apa di masa depan. Mimpi-mimpi setiap orang memang berbeda dalam segi jumlah maupun apa yang dimimpikannya itu. Tapi semua memiliki kesamaan, yakni apa yang dimimpikannya itu menjadi kenyataan.

Siapa yang tidak senang jika mimpinya terwujud? Banyak orang-orang yang berhayal dan melamunkan jika mimpinya itu menjadi nyata. Berhayal bagaimana jika mimpi mereka berhasil, kehidupan setelahnya seperti apa, lalu bagaimana tanggapan orang-orang terhadap dirinya nanti, dan masih banyak lagi hal-hal yang dilamunkan. Namun sayangnya, banyak diantara mereka yang hanya menyanyikan mimpi di siang dan malam sambil berharap bahwa itu akan menjadi nyata.



Namun menyanyikan mimpi-mimpi kita tak cukup untuk membuat semua itu seperti nyata. Memang, ketika kita menyanyikan mimpi-mimpi itu kita seringkali terpacu ingin mimpi itu menjadi kenyataan. Tapi itu tidak cukup, kita harus membuat semua mimpi dan harapan kita itu menjadi nyata. Tak lagi dalam angan-angan dan hayalan yang tak kunjung selesai.

Bertindak merupakan salah satu bentuk mewujudkan mimpi itu. Meskipun tindakan kita perlahan tapi jika dilakukan secara terus-menerus akan menuai hasil, tentu saja dengan syarat konsisten dengan mimpi kita itu. Bahkan sering kali apa yang kita lakukan untuk mimpi tersebut, hasilnya melebihi apa yang kita impikan. Itu karena kita berani bertindak, berani mengambil resiko, dan berani mengambil tantangan.

Namun sayangnya, banyak diantara para remaja yang tidak menyadari hal ini. Mereka mempunyai mimpi yang tinggi, namun tanpa ada pergerakan. Sepertinya, tindakan adalah hal yang paling sulit mereka lakukan. Bagi mereka lebih mudah bermimpi daripada bertindak. Padahal, bermimpi tanpa bertindak seperti memakai baju transparan. Percuma, bukan ?

Life isn’t a music, hidup tidak seperti musik. Terutama dalam musik modern, banyak lagu-lagu yang memiliki tema beragam yang hanya dinyanyikan saja. Lagu patah hati misalnya, banyak lagu patah hati di tanah air ini dan rata-rata menceritakan bagaimana rasanya patah hati juga seperti apa sakitnya patah hati. Dari aliran musik pop sampai rock ada tema patah hati. Tapi, apakah setelah mendengar lagu tersebut kita mempelajari tentang perasaan lagu tersebut dan berusaha keluar dari belenggu rasa patah hati ? banyak para remaja yang hanya mendengarkan tanpa berusaha keluar dari belenggu patah hati karena mereka terlalu terhanyut dalam lagu itu.

Dalam dunia musik, tentu saja sah mengekspresikan apa yang ingin kia sampaikan melalui lantunan nada-nada alat musik. Bahkan kadang menjadi obat penenang untuk kita. Tapi ingat kawan, obat penenang tak selamanya bisa memenangkan. Ketika manfaatnya telah habis, belum tentu kita bisa tenang. Maka dari itu, kita harus keluar dari belenggu tersebut.

We must action not only sound, Kita harus beraksi bukan hanya bersuara. Ketika kita mendengarkan sebuah lagu, kita tidak boleh hanya bersuara dalam hati bahwa kita ingin keluar dari ruang lingkup masalah kita atau kegalauan kita. Tapi, kita juga harus melakukan ‘action’ atau tindakan untuk mewujudkan apa yang kita harap itu. Memang, yang namanya bersuara itu bisa memotivasi kita untuk melakukan tindakan tapi jika hanya sebuah motivasi tanpa tindakan itu tidak bearti apa-apa. Dalam menjalani kehidupan kita tidak boleh hanya berharap berubah tapi tanpa berusaha melakukan perubahan itu. Manusia dituntut untuk melakukan perubahan-perubahan nyata dalam bentuk pergerakan, bukan perubahan semu dalam bentuk ucapan tanpa pergerakan. Meski penulis sendiri mengakui bahwa ucapan bisa mempengaruhi perbuatan, tapi jika hanya mengucapkan saja tanpa perbuatan terasa percuma.

Jadi, kita sebagai manusia tidak boleh hanya berharap tanpa perbuatan. Karena jika berharap tanpa perbuatan itu percuma, tapi perbuatan tanpa mengetahui apa tujuannya sama saja dengan bohong. Jadilah insan yang dapat mewujudkan apa yang dia ucapkan meski hal sederhana. (Artikel ini terinspirasi dari @Num_Asyalia dalam bionya dulu : Life Ins’t a Music, We Must Action not only sound!)