Jumat, 14 Agustus 2015

[Catatan] Take Ur Self From Love.

Ingatlah, sayang. Ada banyak kesemuan di dunia ini yang tak bisa kau jelaskan sendiri. Meskipun kau coba urai dalam pikiranmu, tetap saja kau butuh orang lain untuk membantumu menyelesaikan ketidakjelasan itu.

Tapi sayang, seringkali kecewa yang kita dapatkan.

Ada beberapa orang yang percaya dengan pepatah-pepatah dulu, yang kini menghiasi mata mereka seolah-olah penyemangat bagi jiwa yang sendu.

"Orang yang patah hati paling parah, akan jatuh cinta dengan cara paling indah"

Itulah janji yang dipegang oleh mereka yang telah remuk hatinya, terpecah menjadi beling kecil tak kasat mata. Bisa saja melukai para pejalan kaki dengan telanjang, atau berbaju sekalipun.

Beberapa dari mereka terlalu meresapi luka, menikmati setiap tetesan darah yang jatuh ke lantai. Lantas mereka tertawa dengan sedih lalu tersenyum ceria, seolah tak ada apa-apa. Lelah tampak jelas terlihat diraut wajahnya. Entahlah, mungkin mereka lelah memperbaiki hatinya.

Begitu mereka percaya akan janji itu, mereka terus berharap akan mengalami jakau cinta yang sangat indah. Seringkali membayangkan romantika dan estentika jatuh cinta seperti yang mereka inginkan. Ya, beberapa orang terbuai dalam mimpi. Ada yang bangun, ada yang terlalu asyik tidur dan ada yang tak bisa bangun.

Ya, pepatah lama memang tak pernah berdusta. Orang yang patah hati paling parah, akan jatuh cinta dengan cara yang paling indah. Kau tahu rasanya berjalan di gurun luas lalu tiba-tiba menemukan oasis? Seperti itulah kira-kira, luka di hatimu akan sembuh dan yang tadinya berupa pecahan kaca, akan menjadi hati baru yang utuh.
Tapi kita tak pernah teliti dengan pepatah lama itu.

"Bukankah hanya jatuh cintanya saja yang indah? Siapa yang menjamin seterusnya akan indah?"

Bagaimana jika kau hanya menemukan luka baru? Rasa sakit baru? Kebingungan baru? Masalah baru? Atau apapun masalahmu, segalanya serba baru?

Nak, sejatinya setiap jatuh cinta memiliki luka dan pengorbanan juga ketaatan. Kau menghadapi orang baru, tentu saja semua itu akan ada. Kita harus siap dengan segala kemungkinan, meskipun itu terburuk. Kau tahu sendiri kan? Banyak orang yang lupa mempersiapkan segala kemungkinan hanya karena menikmati keindahan. Padahal keindahan itu fana, sementara luka akan abadi. Mungkin bagi sebagian orang tak abadi, tapi bekasnya akan selalu ada.

Tapi nak, selalu ada kepahitan di tiap cinta yang baru. Ini tidak sama dengan minum kopi pahit, tapi lebih dari itu.

Kepahitan itu bisa saja datang dari cinta lamanya; yang lebih sempurna darimu, yang masih memberikan ucapan selamat pagi atau sekedar bercanda bersama. Sementara kau hanya mematung, melawan angin musim salju yang semakin dingin. Tanpa pemanas ruangan, kayu bakar, marshmellow, atau apapun itu. Kau harus berjuang sendirian, dengan kaki yang gemetar dan nafas yang membeku. Sulit, bukan?

Kepahitan itu bisa saja datang dari cinta yang lain; tentu kau tak ada apa-apanya dengan dia. Apa yang bisa kau banggakan dari sosok kurangmu? Padahal dia begitu sempurna. Bukankah kau bukan tandingannya?

Kepahitan itu bisa datang dari masa lalunya; kau menerimanya dengan ikhlas, tapi penerimaan itupun meninggalka luka. Bagaimana ini? Apa yang harus ku perbuat?
Kepahitan itu bisa datang dari dirinya; yang tergiang dikepalamu. Dia yang selalu menghiraukanmu, mengacuhkanmu, tak pernah peduli bagaimana kabarmu, bahkan bisa saja dia sama sekali tak peduli padamu. Sementara kamu? Tak usah ditanya.

Bahkan kepahitan itu bisa datang dari dirimu; melupakan cara membahagiakan diri sendiri.
Dan ada banyak lagi kepahitan yang akan kau temui, dan kau tak bisa menjabarkannya. Hanya bisa kau rasa, tak ada kata yang bisa mewakili.

Banyak orang bilang jika pengorbanan dan ketaatan adalah bukti cinta.

Tapi apakah terlalu mengorbankan
diri sehingga merasa dirimu tak ada harganya adalah bagian dari cinta? Bukankah cinta itu selalu mengagungkan orang-orang? Jika kau sampai dititik tak ada harganya -murahan-, bisakah itu disebut cinta? Menjual harga dirimu hanya demi secuil perhatian? Nak, kau tak serendah itu. Tak usah repot-repot memurahkan diri. Karena sejatinya perhatian tak selalu berupa sms mesra atau ucapan rutinan pagi dan menjelang tidur. Perhatian sesungguhnya ketika kau menjaga dirimu dan orang yang selalu mampir dalan mimpimu, agar terhindar dari hal buruk dan meleburkannya dalam doa. Jika menurutmu perhatian adalah sms mesra atau yang lainnya, bukankah itu akan meninggalkan luka, harapan, kecemasan, kekhawatiran, dan duka? Itu lebih kejam -jika dilakukan sebelum terikat-.

Dan jika ketaatan itu ada, apakah hati dan akal selalu ikut berkompromi?

Beberapa orang mungkin akan memberikan dua pilihan; stay or leave. Keduanya memiliki resiko tersendiri, tak pernah kau duga. Tapi aku tak akan memberikanmu pilihan itu, nak.

Tetaplah jaga dirimu sendiri, dan dirinya. Tapi jangan memurahkan dirimu, kau istimewa. Tak perlu repot-repot mengemis, karena kau bukan pengemis. Karena waktu akan membuktikan, seberapa lama kau kuat seperti ini.

Biarkan dia memilih, apa yang terbaik untuknya. Kita tak akan pernah bisa mengekang siapapun, mereka punya pilihan sendiri. Karena pada akhirnya, orang-orang tulus akan mendapat kebahagiaan. Sementara mereka yang meninggalkan si tulus akan menyesal seumur hidup; pernah menyia-nyiakan cinta tanpa syarat. Biarkan kita lihat, seperti apa hasil akhirnya. Siapa yang menderita paling parah, bahagia paling indah, tersenyum paling manis dan menangis paling kencang.

Katakanlah aku kejam, tapi bukankah hidup memang tak kenal ampunan?

Kamis, 13 Agustus 2015

[Catatan] Hidup Itu Kejutan.

Hidup itu kejutan.

Ada banyak hal yang membuat kita terkejut, entah dari mana datangnya itu, selalu membuat cerita hidup kita lebih menarik. Memunculkan berbagi pertanyaan dan dugaan yang tumbuh seperti ilalang dalam pikiran kita. Ada banyak hal yang membuat kita begitu tertarik dengan keterkejutan itu, sehingga pada akhirnya terperangkap dalam ilusi yang memuakkan. Menipiskan jarak antara benar atau salah dan membuat keduanya semu, membuat ragu untuk melangkah.

Kejutan itu bisa datang dari masa lalu, sesuatu yang kau tutup rapat dari orang lain tapi entah bagaimana caranya diketahui oleh orang-orang.

Kejutan itu bisa datang dari masa depanmu, membayangkan hidup sebagai tokoh disney tapi sekedar bercandapun tak bisa.

Kejutan itu bisa datang dari hatimu, suara kecil yang sering kali berteriak minta tolong ingin didengar.

Kejutan itu bisa datang dari orang disekitarmu, yg susah payah kau jaga malah memasang wajah tanpa ekspresi.

Atau, kejutan itu sendiri datang dari diri kita sendiri? Yang tak pernah mampu keluar dari labirin dalam tempurung kepala, terus berdebat dengan argumen sendiri sementara kita tak pernah mau mendengarkan orang lain, hati yang terus ditekan sampai hanya setengahnya yang hidup, jiwa yang tak pernah memakan nutrisi dan raga yang melemah?

Nikmati saja kejutan yg menyebalkan di hidupmu. Tak perlu risau, toh mereka akan mewarnai hidupmu; menghidupkan bagian dirimu yg lainnya. Walau kadang menyebalkan, kejutan selalu memberi kado diperpisahan nanti.

Kejutan memiliki rasa, kita tak akan pernah tau rasa apa yg dia bawa. Tapi percayalah, selalu ada sesuatu yg manis didalamnya Mungkin hujan, atau gula aren jawa. Oh bukan, itu sesuatu yang tak berbentuk dan beraroma. Seperti lukisan abstrak.

Selamat malam :)